Bandar Lampung. MAN 1 (Humas). MAN 1 Bandar Lampung menggelar sosialisasi bertema “Strategi Pencegahan Intoleransi, Radikalisme, Terorisme, Bullying di Lingkungan Pelajar” pada Jumat (23/10/2026) di aula madrasah. Kegiatan ini diikuti oleh perwakilan murid kelas X, XI, dan XII dengan menghadirkan BRIPTU Tasrif dan BRIPTU Nando dari Tim Pencegahan Densus 88 Antiteror Polri sebagai pemateri.
Dalam pemaparannya, tim Densus 88 menjelaskan alasan pelajar rentan menjadi sasaran penyebaran paham radikal. Masa pencarian jati diri, kemampuan literasi digital yang belum memadai, serta intensitas penggunaan media sosial menjadi sejumlah faktor yang perlu mendapat perhatian.
“Pelajar perlu berhati-hati dalam menerima informasi dan berinteraksi di dunia digital. Jangan mudah percaya atau mengikuti ajakan seseorang sebelum mengetahui tujuan dan dampaknya,” ujar salah seorang pemateri.
Pemateri juga mengingatkan bahwa penyebaran paham menyimpang dapat berlangsung melalui berbagai platform digital, termasuk media sosial dan gim daring. Oleh karena itu, murid perlu mengenali konten yang mengarah pada kekerasan, tidak mudah terpengaruh oleh ajakan yang mencurigakan, serta menggunakan internet secara bijak.
Selain membahas intoleransi, radikalisme, dan terorisme, sosialisasi tersebut mengangkat persoalan bullying atau perundungan di lingkungan pelajar. Perundungan tidak hanya berdampak pada kondisi psikologis korban, tetapi juga dapat memicu rasa sakit hati dan keinginan untuk membalas.
“Jika mengalami atau mengetahui tindakan bullying, jangan diam saja. Berani berbicara atau speak up merupakan salah satu langkah penting untuk mencegah perundungan terus terjadi,” ungkap pemateri.
Murid juga diingatkan untuk melaporkan tindakan perundungan kepada guru atau pihak madrasah agar dapat ditangani dengan tepat. Upaya pencegahan membutuhkan kepedulian bersama sehingga lingkungan belajar tetap aman dan setiap murid merasa dihargai.
Melalui kegiatan ini, murid MAN 1 Bandar Lampung diharapkan mampu bersikap kritis dalam menyaring informasi, menghargai perbedaan, serta menjaga keseimbangan antara aktivitas di dunia nyata dan dunia digital. Dengan demikian, murid dapat berperan aktif dalam mencegah intoleransi, radikalisme, terorisme, dan perundungan di lingkungan madrasah maupun dalam pergaulan sehari-hari. (Kh/Yn/YM/FA/AL).